TUGAS MATA KULIAH
MANAJEMEN KUALITAS AIR
MAKALAH
VARIABEL – VARIABEL KUALITAS AIR
UNTUK KEPERLUAN NURSERY DAN PEMBESARAN IKAN
Oleh :
Yosia Idewani K2B 009 005
Beny Budi S. K2B 009 011

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011
PENDAHULUAN
Istilah pembesaran berkaitan erat dengan pertumbuhan. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertumbuhan ukuran baik bobot maupun panjang dalam satu periode waktu tertentu. Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi genetik dan kondisi fisiologis ikan, serta faktor eksternal yang berhubungan dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan gangguan penyakit.
Kualitas lingkungan perairan adalah suatu kelayakan lingkungan perairan untuk menunjang kehidupan dan pertumbuhan organisme air yang nilainya dinyatakan dalam suatu kisaran tertentu. Sementara itu, perairan ideal adalah perairan yang dapat mendukung kehidupan organisme dalam menyelesaikan daur hidupnya.
Parameter fisik dalam kualitas air merupakan parameter yang bersifat fisik, dalam arti dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan penciuman dapat mendeteksi adanya perubahan bau pada air, dan peraba pada kulit dapat membedakan suhu air, selanjutnya rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah (indera perasa). Hasil indikasi dari panca indera ini hanya dapat dijadikan indikasi awal karena bersifat subjektif, bila diperlukan untuk menentukan kondisi tertentu, misal kualitas air tersebut telah menurun atau tidak harus dilakukan analisis pemeriksaan air di laboratorium dengan metode analisis yang telah ditentukan. Parameter kimia sendiri didefinisikan sebagai sekumpulan bahan atau zat kimia yang keberadaannya dalam air mempengaruhi kualitas air. Selanjutnya secara keseluruhan parameter biologi mampu memberikan indikasi apakah kualitas air pada suatu perairan masih baik atau kurang baik, hal ini dinyatakan dalam jumlah dan jenis biota perairan yang masih dapat hidup dalam perairan.
Beberapa faktor kualitas air seperti oksigen terlarut, suhu, dan ammonia dapat menyebabkan kematian pada ikan. Lainnya, seperti pH, alkalinitas, kekerasan dan kecerahan mempengaruhi ikan, tetapi biasanya ikan tidak sampai mengalami kematian. Setiap faktor kualitas air berinteraksi dan saling berpengaruh terhadap parameter lain. Pada situasi tertentu reaksi antar parameter akan menyebabkan racun pada air dan dapat mematikan. Sehingga sangat penting adanya monitoring kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan dari sistim produksi budidaya.
ISI / POKOK BAHASAN
1. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan, sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak.
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan makhluk hidup di dalam air maupun hewan terestrial. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung. Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan di perairan sebaiknya harus di atas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat toksik. Konsentrasi oksigen terlarut minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara normal komunitas akuatik di periaran, sedangkan kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 – 8 mg/l.
Oksigen terlarut dalam sistem budaya harus dijaga agar ikan tidak mengalami stress. Sebagai aturan praktis, oksigen terlarut harus dijaga di atas 3 ppm. Penurunan konsentrasi atau kondisi oksigen terlarut minimum akan menyebabkan stress pada ikan. Stress pada ikan menyebabkan nafsu makan ikan menjadi rendah, metabolisme terganggu, dan mengurangi kemampuan ikan mengubah makanan menjadi energi, sehingga ikan menjadi rentan terhadap serangan penyakit. Apabila hal ini berlanjut dapat menyebabkan kematian pada ikan. Pada sistim budidaya intensif untuk meningkatkan konsentrasi dan mempertahankan oksigen terlarut digunakan sistim aerasi dan sirkulasi.
2. Salinitas
Salinitas adalah berat garam dalam gram per kilogram air laut serta merupakan ukuran keasinan air laut dengan satuan ppt atau permil. Salinitas merupakan parameter penunjuk jumlah bahan terlarut dalam air. Zat-zat yang terlarut dalam air laut yang membentuk garam adalah :
1. Unsur utama : Khlorida (Cl), Natrium/ Sodium (Na), Oksida Sulfat (SO4) dan
Magnesium (Mg).
2. Gas terlarut : Karbondioksida (CO2), Nitrogen (N2), dan Oksigen (O2).
3. Unsur hara : Silika (Si), Nitrogen (N), dan Phosphor (P).
4. Unsur runut : Besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb) dan Merkuri (Hg).
Salinitas mempunyai peranan penting untuk kelangsungan hidup dan metabolisme ikan, di samping faktor lingkungan maupun faktor genetik spesies ikan tersebut. Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, dan aliran air sungai. Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen sampai kira-kira setebal 50-70 meter atau lebih tergantung dari intensitas pengadukan. Lapisan dengan salinitas homogen, maka suhu juga biasanya homogen, selanjutnya pada lapisan bawah terdapat lapisan pekat dengan degradasi densitas yang besar, yang menghambat pencampuran antara lapisan atas dengan lapisan bawah.
Salinitas permukaan air laut sangat erat kaitannya dengan proses penguapan dimana kadar garam yang tidak sesuai dapat menghambat perkembangbiakan dan pertumbuhan. Kerang hijau, kerang darah dan tiram adalah jenis-jenis kerang yang hidup di daerah estuaria. Variasi salinitas alami estuaria di Indonesia berkisar antara 15 - 32 ppt. Hasil penelitian yang dilakukan pada kerang hijau memberikan petunjuk bahwa salinitas yang lebih rendah dari 15 ppt dapat menyebabkan kematian kerang tersebut. Keberhasilan benih kerang darah untuk menempel pada kolektor tergantung pada salinitas. Pada salinitas 18 ppt, keberhasilan menempel lebih tinggi. Tiram dapat hidup dalam perairan dengan salinitas yang lebih rendah daripada salinitas untuk kerang hijau dan kerang darah. Kerapu dan beronang dapat hidup di daerah estuaria maupun daerah terumbu karang. Ikan kakap hidup di perairan pantai dan muara sungai. Rumput laut hidup di daerah terumbu karang. Pada umumnya salinitas alami perairan terumbu karang di Indonesia adalah sekitar 31 ppt.
3. Suhu
Semua proses biologi dan kimia dalam operasi akuakultur dipengaruhi oleh suhu. Ikan menyesuaikan suhu tubuh dengan melakukan pergerakan dari air yang bertemperatur rendah menuju temperatur tinggi guna meningkatkan metabolisme. Setiap spesies memiliki kisaran suhu optimum yang akan menentukan pertumbuhan optimal. Apabila ikan berada pada suhu rendah dapat menyebabkan kematian atau pertumbuhan menjadi lambat. Setiap spesies ikan memiliki batas minimum konsumsi oksigen terlarut yang dipengaruhi oleh temperatur air di sekitarnya.
Suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembangbiak. Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air, karena bersama-sama dengan zat atau unsur yang terkandung di dalamnya akan menentukan massa jenis air, dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk menentukan densitas air. Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan kejenuhan air. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada. Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya akan mengakibatkan turunnya konsentrasi oksigen terlarut, kecepatan reaksi kimia meningkat, dan terganggunya kehidupan ikan dan hewan air lainnya. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati.
Suhu air yang layak untuk budidaya ikan laut adalah 27 – 32oC. Kenaikan suhu perairan juga menurunkan kelarutan oksigen dalam air, memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas ikan di samping akan menaikkan daya racun suatu polutan terhadap organisme perairan. Suhu air berkisar antara 35 – 40oC merupakan suhu kritis bagi kehidupan organisme yang dapat menyebabkan kematian. Secara umum, suhu air di perairan Indonesia sangat mendukung bagi pengembangan budidaya perikanan.
4. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besaran pH dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0 – 14, nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai pH di atas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH =7 disebut sebagai netral.
Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat asam dan dapat menyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5 merupakan perairan yang sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya. Ikan bertahan dan berkembang baik di perairan dengan pH antara 6-9. Jika pH berada di luar kisaran ini, pertumbuhan ikan akan terganggu. Pada nilai-nilai pH di bawah 4,5 atau di atas 10, kematian ikan dapat terjadi.
pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan air di kolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik, semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Kalsium karbonat).
5. Nitrogen
Nitrogen merupakan salah satu unsur penting bagi pertumbuhan organisme dan proses pembentukan protoplasma, serta merupakan salah satu unsur utama pembentukan protein. Di perairan nitrogen biasanya ditemukan dalam bentuk amonia, amonium, nitrit dan nitrat serta beberapa senyawa nitrogen organik lainnya. Pada umumnya nitrogen diabsorbsi oleh fitoplankton dalam bentuk nitrat (NO3) dan amonia (NH3). Fitoplankton lebih banyak menyerap NH3 dibandingkan dengan NO3 karena lebih banyak dijumpai di perairan baik dalam kondisi aerobik maupun anaerobik. Senyawa-senyawa nitrogen ini sangat dipengaruhi oleh kandungan oksigen dalam air, pada saat kandungan oksigen rendah nitrogen berubah menjadi amoniak (NH3) dan saat kandungan oksigen tinggi nitrogen berubah menjadi nitrat (NO3).
Nitrat (NO3) adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami. Nitrat merupakan salah satu nutrien senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi di perairan dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersediaan nutrien. Konsentrasi ammonia untuk keperluan budidaya laut adalah sekitar 0,3 mg/l, sedangkan untuk nitrat adalah berkisar antara 0,9 – 3,2 mg/l.
Pada budidaya ikan secara intensif kandungan ammonia dapat menjadi sangat tinggi, hal ini disebabkan dari sisa pakan yang mengandung protein tinggi. Amonia dan limbah metabolik lainnya secara bertahap dihapus oleh proses alami di kolam atau melalui penggunaan filter biologis dalam sirkulasi. Amonia dihilangkan oleh bakteri yang mengubahnya menjadi nitrit dan kemudian menjadi nitrat. Nitrit adalah racun bagi ikan dan menyebabkan penyakit "darah cokelat". Nitrit dengan konsentrasi 0,5 ppm dapat mengurangi pertumbuhan sedangkan ikan dapat mentolerir nitrat. Amonia dapat dikurangi dengan menjaga pH air antara 7-9 guna menumbuhkan bakteri nitrifikasi.
6. Intensitas Cahaya dan Kecerahan
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang utama bagi kehidupan jasad termasuk kehidupan di perairan karena ikut menentukan produktivitas perairan. Intensitas cahaya matahari merupakan faktor abiotik utama yang sangat menentukan laju produktivitas primer perairan, sebagai sumber energi dalam proses fotosintesis. Umumnya laju fotosintesis meningkat sejalan dengan bertambahnya intensitas cahaya sampai pada suatu nilai optimum tertentu (light saturation), di atas nilai tersebut cahaya merupakan penghambat bagi fotosintesis (light inhibition). Sedangkan semakin ke dalam perairan intensitas cahaya akan semakin berkurang dan merupakan faktor pembatas sampai pada suatu kedalaman dimana fotosintesis sama dengan respirasi.
Kedalaman perairan dimana proses fotosintesis sama dengan proses respirasi disebut kedalaman kompensasi. Kedalaman kompensasi biasanya terjadi pada saat cahaya di dalam kolom air hanya tinggal 1 % dari seluruh intensitas cahaya yang mengalami penetrasi di permukaan air. Kedalaman kompensasi sangat dipengaruhi oleh kekeruhan dan keberadaan awan sehingga berfluktuasi secara harian dan musiman.
Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem perairan. Di perairan, cahaya memiliki dua fungsi utama, antara lain adalah memanasi air sehingga terjadi perubahan suhu dan berat jenis (densitas) dan selanjutnya menyebabkan terjadinya percampuran massa dan kimia air. Perubahan suhu juga mempengaruhi tingkat kesesuaian perairan sebagai habitat suatu organisme akuatik, karena setiap organisme akuatik memiliki kisaran suhu minimum dan maksimum bagi kehidupannya. Selain itu cahaya matahari juga merupakan sumber energi bagi proses fotosintesis algae dan tumbuhan air.
Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditemukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter, nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta ketelitian seseorang yang melakukan pengukuran. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah. Untuk budidaya perikanan laut, kecerahan air yang dipersyaratkan adalah > 3 m, sedangkan untuk budidaya air tawar atau payau perlu diperhatikan apakah kultivan termasuk spesies yang membutuhkan kecerahan tinggi atau tidak.
7. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolisme makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya.
Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi, tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula. Padatan tersuspensi perairan yang baik untuk usaha budidaya perikanan adalah antara 5 – 25 mg/l.
Padatan tersuspensi menciptakan resiko tinggi terhadap kehidupan dalam air pada aliran air yang menerima tilling di kawasan dataran rendah. Dalam daftar berikut ini, dapat dilihat bahwa padatan tersuspensi dalam jumlah yang berlebih (diukur sebagai total suspended solids – TSS) me. miliki dampak langsung yang berbahaya terhadap kehidupan dan bisa mengakibatkan kerusakan ekologis yang signifikan melalui beberapa mekanisme berikut ini:
1) Abrasi langsung terhadap insang ikan atau jaringan tipis dari tumbuhan air;
2) Penyumbatan insang ikan atau selaput pernapasan lainnya;
3) Menghambat smothering telur atau kurangnya asupan oksigen karena terlapisi oleh padatan;
4) Gangguan terhadap proses makan, termasuk proses mencari mangsa dan menyeleksi makanan (terutama bagi predation dan filter feeding);
5) Gangguan terhadap proses fotosintesis oleh ganggang atau rumput air karena padatan menghalangi sinar yang masuk;
6) Perubahan integritas habitat akibat perubahan ukuran partikel.
8. Alkalinitas dan Kesadahan
Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam, atau dikenal dengan sebutan acid-neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan. Penyusun alkalinitas adalah anion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO32-) dan hidroksida (OH-). Selain itu borat (H2BO3-), silikat (HSiO3-), fosfat (HPO42- dan H2PO4-), sulfida (HS-), dan ammonia (NH3) juga memberikan kontribusi terhadap alkalinitas. Namun pembentuk alkalinitas yang utama adalah bikarbonat, karbonat dan hidroksida. Diantara ketiga ion tersebut, bikarbonat paling banyak terdapat pada perairan alami.
Kesadahan (hardness) adalah gambaran kation logam divalent (valensi dua). Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun (soap) membentuk endapan atau presipitasi maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan atau karat pada peralatan logam. Pada perairan tawar, kation divalen yang paling berlimpah adalah kalsium dan magnesium, sehingga kesadahan pada dasarnya ditentukan oleh jumlah kalsium dan magnesium. Kalsium dan magnesium berikatan dengan anion penyusun alkalinitas, yaitu bikarbonat dan karbonat.
Konsentrasi total dari ion logam yang bervalensi dua terutama Ca dan Mg dinyatakan dalam mg/l setara CaCO3 menunjukkan tingkat kesadahan air. Total alkalinitas dan kesadahan air umumnya sama, namun pada beberapa perairan tertentu lebih besar atau sebaliknya. Tingkat total alkalinitas dan kesadahan air yang diperlukan untuk budidaya ikan umumnya pada deret 20 – 300 mg/l. Bila total alkalinitas dan kesadahan air lebih rendah dapat ditingkatkan dengan pemberian kapur, sedangkan bila terlalu tinggi belum ditemukan cara yang praktis untuk menurunkannya.
9. COD dan BOD
COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan. Uji COD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan uji BOD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dengan uji COD. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alami dapat teroksidasi melalui proses mikrobiologis yang mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air serta dapat memberikan indikasi kemungkinan adanya pencemaran limbah industri di dalam perairan.
BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka berarti kandungan bahan-bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi. Konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengoksidasi air pada suhu 20oC selama 5 hari, dan nilai BOD yang menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi dapat diketahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi. Nilai BOD < 3 mg/l menunjukkan bahwa perairan tidak tercemar, sebaliknya bila nilai BOD > 15 mg/l menunjukkan bahwa perairan tercemar berat.
PENUTUP
Dalam sistem budidaya dengan kepadatan tebar tinggi, maka suhu, oksigen terlarut, ammonia, nitrit, dan pH harus dipantau setiap hari. Kejernihan air, alkalinitas, dan kesadahan dapat diukur tidak terlalu sering, mungkin satu atau dua kali per minggu, karena tidak berfluktuasi dengan cepat. Salinitas, kandungan logam, dan klorin harus diperiksa ketika sumber air potensial pertama diperiksa sehingga tindakan korektif dapat dimasukkan ke dalam sistem produksi selama tahap desain atau perencanaan. Karbondioksida harus diukur ketika pertama kali menggunakan sumber air tanah baru dan diperiksa secara rutin dalam sistem sirkulasi. Hidrogen sulfida dan karbondioksida dapat menjadi masalah yang serius, karena itu sistem harus diawasi dengan baik dan sarana untuk memperbaiki masalah harus siap tersedia.
Dalam sistem budidaya dengan kepadatan tebar rendah, parameter kualitas air dapat dipantau lebih jarang atau tidak sama sekali. Terlepas dari frekuensi, pemantauan harus dilakukan pada waktu standar dan kedalaman di mana ikan berada. Waktu pengukuran dan nilai-nilai yang diamati harus dicatat dengan baik. Data pengukuran kualitas air dari waktu ke waktu sangat penting untuk menunjang kegiatan budidaya. Dalam wadah budidaya seperti kolam, adalah lebih baik untuk memantau oksigen terlarut pada pagi hari, waktu dimana kondisi stres untuk ikan paling mungkin terjadi (misalnya, oksigen rendah). Sebaliknya, suhu dan pH di kolam lebih baik diukur pada sore hari. Variabel kualitas air yang paling sering diukur adalah suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan pH; jika keempat indikator tersebut berada pada kondisi optimum, maka variabel-variabel lain terkadang diabaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Boyd C.E. 1982. Water Quality Management For Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Publishing Company. New York.
Cholik Fuad, Ateng G.J, Poernomo, Ahmad Jauzi. 2005. Akuakultur. PT. Victoria Kreasi Mandiri, Jakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius,Yogyakarta.
Kordi, M. Ghufran H. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Bhnineka Cipta, Bandung.
Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar